Kakao Berbuah Tanpa Mengenal Musim

Posted in pelajaran kakao on April 24, 2008 by k4107082

Kenal pertama kali produk pertanian NASA dari tetangga saya. Luas lahan tanaman kakao milik saya 0,25 Ha lebih. Umur tanaman kakao 7 tahun. Produk yang saya gunakan adalah Power Nutrition, SUPERNASA, HORMONIK, PESTONA dan AERO 810. Cara penggunaan produk yakni : 2 botol SuperNASA + 1 botol Power Nutrition dicampurkan kedalam 400 liter air. Ambil 1 liter larutan tersebut untuk setiap 1 pohon, dan semuanya bias digunakan untuk 400 pohon.

Untuk pengendalian hama yang saya gunakan adalah 30 cc PESTONA + 10 cc HORMONIK + 30 cc AERO 810 dilarutkan dalam 15 liter air (1 tangki). Dengan perlakuan tersebut hama-hama yang biasa menyerang tanaman kakao bisa ditekan dan dikendalikan.

Sebenarnya produk-produk NASA dan pupuk makro kimia (NPK) sudah saya gunakan sejak 2 tahun lalu, namun setelah menginjak 1 tahun, saya sudah tidak lagi menggunakan pupuk makro kimia (Urea, TSP, Kcl atau NPK). Namun begitu aturan pakai standar perusahaan dari perusahaan menyarankan semestinya masih harus menggunakan pupuk makro walau harus dikurangi.

Banyak manfaat setelah saya menggunakan produk pertanian NASA sebagai contoh saja interval panen kakao sebelum menggunakan produk NASA setahun hanya 5 kali panen sudah habis. Setelah menggunakan produk NASA hampir tiap minggu sepanjang tahun panen terus menerus tanpa henti. (Bahkan setiap 3 hari sekali panen 25 Kg keriang siap jual).

Selain itu kelebihan/keuntungan produk NASA diantaranya : 1) Buah kakao tidak pernah berhenti berbuah seperti tidak kenal musim, sepanjang tahun terus menerus. 2) Helopeltis (hama penyakit tanaman kakao) bisa ditekan/dikendalikan dengan menggunakan PESTONA hingga mencapai 60% (Serangan hama penyakit berbahaya sudah tidak dapat dikendalikan lagi dengan pestisida kimia, selain itu juga tanaman menjadi tidak sehat). 3) Untuk serangan penggerek batang kakao juga bisa dikendalikan dengan menggunakan PESTONA + HORMONIK + AERO 810. 4) Setelah menggunakan Poer
Nutrition dan SUPERNASA, panen kakao dapat terus menerus tidak mengenal musim. Kesimpulan akhir saya, bahwa saya merasa bangga setelah menggunakan produk-produk NASA karena tanaman kakao yang terkena hama dan penyakit sehat kembali dan hasil lebih melimpah. Terima Kasih NASA …!!!!

Asep (Petani Kakao)
Kampung Kertasari, Desa Sinar Baru
Kec. Sukoharjo, Kab. Tanggamus, Lampung

Indonesia Negara Pertama Terapkan Teknik Somatic Embryogenesis Kakao

Posted in cacao on April 24, 2008 by k4107082

 

JEMBER – Masyarakat kopi dan kakao siap memasuki babak baru. Ini diawali dengan  beroperasinya Laboratorium  Teknologi Somatic Embryogenesis (SE) di Indonesia. Mentan Anton Apriyantono telah meresmikan laboratorium canggih ini di Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia (PPKKI) di Jember, Jatim,  Sabtu (16/2). Dengan peresmian Laboratorium SE tersebut, menurut Mentan, Indonesia tercatat sebagai negara pertama di dunia yang menerapkan teknologi SE untuk perbanyakan bibit kakao secara komersial. Sementara komoditas kopi, Thailand tercatat sebagai pengguna pertama teknologi SE.

 

Dalam sambutannya, Mentan menjelaskan bahwa sekitar 80% produksi biji kopi dan kakao Indonesia pada saat ini dihasilkan oleh perkebunan rakyat. Hasil produksi perkebunan ini juga sebagian besar untuk keperluan ekspor (biji kopi lebih dari 50% dan biji kakao hampir 90%). Dan, sekitar 2 juta petani Indonesia pada saat ini mengandalkan kopi dan kakao sebagai sumber mata pencahariannya.

 

Kakao merupakan salah satu komoditas utama dalam program revitalisasi perkebunan dengan target capaian pengembangan perkebunan rakyat pada tahun 2010 seluas 200.000 ha, yang meliputi program peremajaan tanaman seluas 54.000 ha, rehabilitasi tanaman tua 36.000 ha, dan perluasan areal tanaman 110.000 ha. Salah satu kunci keberhasilan program ini adalah dapat diimplementasikannya inovasi teknologi, khususnya penggunan benih unggul berkualitas. Dari target ini, dalam waktu 4 tahun ke depan diperlukan lebih dari 200 juta satuan bahan tanam (rata-rata 50 juta satuan bahan tanam/tahun). Apabila dijumlahkan dengan kebutuhan regular di luar program revitalisasi kakao sebesar 25 juta satuan bahan tanam/tahun, maka total kebutuhan menjadi 75 juta satuan bahan tanam/tahun.

 

Pada saat ini diperkirakan sekitar 80% dari hasil kebun kakao yang dipanen, benihnya berasal dari populasi tanaman yang telah ada sebelumnya. Hal ini menyebabkan rata-rata produktivitas kakao hanya sebesar 625 kg/ha/thn atau sekitar 0,31 % dari potensi yang diharapkan, yaitu di atas 2000 kg/ha/thn.

Kemampuan penyediaan benih kakao secara konvensional sampai lima tahun ke depan diperkirakan hanya dapat mencapai 36-50 juta pertahun atau hanya sekitar 0,48-0,67% dari kebutuhan. Selain jumlahnya belum mencukupi, benih kakao yang berasal dari biji sebenarnya belum layak disebut sebagai benih karena kualitas benihnya rendah dan sangat heterogen.

 

Penggunaan teknologi penghasil benih unggul bermutu yang disebut dengan teknologi Somatic Embryogenesis (SE) akan dapat mendukung penyediaan bibit klonal secara massal dengan harga yang terjangkau oleh petani.  Sebagai informasi pembanding, teknologi semacam ini baru dalam tahap uji lapang untuk skala komersial di Equador,  sedangkan untuk tanaman kopi Robusta telah diterapkan di Thailand.

 

Beberapa sifat unggul bibit yang diperoleh dengan teknologi SE adalah tanaman memiliki tajuk sempurna lengkap dengan jorquette, sistem perakaran tunggang, pertumbuhan seragam dan bersifat vigor, masa TBM empat bulan lebih cepat, relative tahan kekeringan, dan produksinya tinggi. Panen pertama dapat dilakukan pada tanaman umur tiga  tahun dengan produksi sudah mencapai 500 kg/ha/thn (500% lebih tinggi dari tanaman asal benih). Pada tanaman umur lima tahun produksinya telah dapat mencapai 1.680 kg/ha/thn.   Tanaman kakao yang berasal dari teknologi SE tidak hanya bersifat true type saja, melainkan juga lebih unggul dibandingkan tanaman yang diperoleh dengan teknik konvensional yang selama ini digunakan di seluruh dunia.

 

Pengembangan teknologi SE pada tanaman kopi dan kakao telah dilakukan oleh PPKKI, bekerjasama dengan Pusat Penelitian dan Pengembangan Nestle (Nestle R&D Centre) Tours, Perancis. Setelah melalui serangkaian proses uji lapang, teknologi SE dapat diterapkan dalam skala besar. Teknologi ini telah ditransfer ke PPKKI melalui system training pada tahun 2006-2007, yang diikuti dengan program pendampingan teknologi dalam proses produksi bibit.

Untuk mendukung pengembangan operasional secara massal, Deptan cq. Ditjenbun pada tahun 2007 telah mengalokasikan dana untuk renovasi bangunan gedung laboratorium tahap pertama seluas 900 m² dan pengadaan peralatan laboratorium SE  yang ada di PPKKI Jember. Dengan telah selesainya renovasi laboratorium tahap pertama dan proses transfer teknologi SE kopi dan kakao, mulai tahun 2008 PPKKI siap memproduksi plantlet paska aklimatisasi kopi dan kakao asal SE, yaitu setara dengan 250.000 bibit kopi Robusta dan 1.100.000 bibit kakao.

 

Dalam upaya meningkatkan produksi dan menekan biaya produksi bibit SE, pada tahun 2008, direncanakan akan dilakukan renovasi laboratorium tahap kedua seluas 2.000 m² melalui anggaran Badan Litbang Pertanian, sekaligus melakukan lanjutan transfer teknologi SE kakao dan kopi Arabika menggunakan teknis bioreactor.

 

Target produksi bibit kopi asal SE tahun 2008 dan 2009 berturut-turut adalah 250.000 dan 1 juta satuan bahan tanam, sedangkan untuk bibit kakao tahun 2008 dan 2009 berturut-turut 1,1 juta dan 4 juta satuan bahan tanam. Selanjutnya mulai tahun 2010 target produksi kopi dan kakao pertahun berturut-turut sebesar 2-5 juta dan 10 juta satuan bahan tanam [Biro Hukmas Setjen Deptan].

 

 

 

Sarungisasi Kakao di Kabupaten Donggala Berhasil Tingkatkan Produktivitas Kakao

Posted in Uncategorized on April 24, 2008 by k4107082

 

 

Agribisnis kakao di Sulawesi Tengah menghadapi kendala rendahnya produktivitas kakao rakyat dan rendahnya mutu biji kakao, yang hanya mencapai grade 3. Hasil penelitian menunjukkan bahwa produktivitas kakao yang rendah disebabkan oleh teknik budidaya yang kurang tepat. Sedangkan rendahnya mutu produksi kakao terutama dikarenakan serangan hama penggerek buah kakao (PBK, Conopomorpha cramerella ) dan busuk buah. Di samping itu, belum adanya lembaga ekonomi petani yang tangguh menyebabkan para petani mendapat kesulitan dalam memperoleh input dan modal yang diperlukan untuk meningkatkan produksi serta memperoleh jaminan harga kakao yang memadai.

Melihat kondisi di atas, BPTP Sulawesi Tengah melalui kegiatan P4MI mengadakan pengkajian di Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah tepatnya di desa Jono-Oge dan desa Tondo. Kecamatan ini terletak pada zona dataran rendah lahan kering. Para petani koperator mendapat pelatihan mengenai pengelolaan tanaman kakao seperti pemangkasan dan memberikan tanaman naungan, pemupukan, sanitasi, serta pengendalian hama dan penyakit.

Pengedalian hama PBK dengan metode penyarungan buah kakao (sarungisasi) ini sudah dikuasai oleh petani koperator di desa Jono-Oge dan desa Tondo. Terbukti bahwa intensitas serangan PBK dengan pengendalian sarungisasi di desa Jono-Oge dan desa Tondo menjadi turun. Sementara intensitas serangan PBK dengan pengendalian insektisida kimia baik di desa Jono-Oge maupun desa Tondo masih cukup tinggi. Kondisi ini disebabkan karena insektisida kimia hanya mampu membunuh imago, padahal keberadaan imago pada tanaman kakao hanya pada sore hari, pada malam hari imago kawin dan bertelur. Petani koperator melakukan penyemprotan hanya pada sore hari. Pada kakao yang tidak dilakukan pengendalian hama atau tidak menerapkan sarungisasi, intensitas serangan PBK tinggi.

Petani yang menerapkan sarungisasi kakao, kebun kakaonya juga terhindar dari serangan lalat buah karena umumnya petani koperator yang melakukan pengendalian dengan sarungisasi telah melakukan pemangkasan dengan cara yang benar, sedangkan petani koperator yang melakukan pengendalian PBK dengan insektisida dan kontrol belum sepenuhnya memangkas secara benar sehingga masih terjadi serangan busuk buah yaitu sekitar 3,3-10%.

Keberhasilan petani kakao di desa Jono Oge dan Tondo telah menarik petani lainnya untuk menerapkan teknologi serupa. Bahkan Bupati Donggala telah mencanangkan program ’sarungisasi kakao’ sebagai salah satu strategi untuk meningkatkan produktivitas kakao di Donggala. Harapan tersebut tentunya tidak berlebihan karena Kabupaten Donggala merupakan produsen kakao utama untuk propinsi Sulawesi Tengah. Luas pertanaman kakao di Kabupaten Donggala kurang lebih 42.407 ha atau 54 % dari luas tanaman kakao di Sulawesi Tengah. Namun hasil PRA yang dilakukan BP2TP di 10 desa miskin di Kabupaten Donggala menunjukkan bahwa produktivitas kakao rakyat di desa-desa tersebut hanya 300 – 600 kg/ha/th. Angka produktivitas ini lebih rendah dibanding rata-rata produktivitas kakao nasional yaitu 932,94 kg/ha/th, apalagi bila dibandingkan dengan potensi produksi kakao yang dapat mencapai 2 – 3 ton/ha/th. Pengelolaan kakao dengan teknologi sesuai anjuran akan meningkatkan produktivitas kakao.

Pak Tohar, adalah salah satu petani di desa Tondo yang menerapkan pengelolaan kakao dengan teknik budidaya yang benar. Hasil panen kakaonya meningkat dan tidak ada yang terserang PBK. Pengetahuan Pak Tohar dalam pengelolaan kakao kemudian ditularkan ke teman-temannya sesama petani baik di desa Tondo maupun di luar desanya.

 

 

BPTP Lampung Perjuangkan Petani Dalam Pemasaran Kakao Fermentasi

Posted in pelajaran kakao on April 24, 2008 by k4107082

Pemasaran hasil kakao fermentasi yang dihargai sama dengan produk kakao asalan (non-fermentasi) yang berkualitas rendah merupakan kendala utama dalam usahatani kakao di Lampung. Usaha mengatasi masalah tersebut telah diinisiasi oleh BPTP Lampung dengan menyelenggarakan forum temu bisnis yang dilaksanakan akhir Juni 2006  di Klinik Agribisnis Prima Tani, Desa Labuhan Ratu IV, Kecamatan Labuhan Ratu, Kabupaten Lampung Timur. Sekitar 90 orang hadir dalam forum tersebut, seperti pengusaha a.l. dari ASKINDO Lampung, PT. General Food/Ceres Bandung, PT. Prama Nugraha Banten. Juga hadir pejabat dan staf dari instansi lokal dan pusat terkait, seperti dari bappeda, Dinas Perkebunan, Puslitbang Perkebunan , BPTP Lampung, termasuk peneliti, penyuluh maupun petaninya itu sendiri.

Kepala BPTP Lampung, Dr. Zulkifli Zaini, menegaskan BPTP Lampung akan terus memperjuangkan petani untuk memasarkan produknya kepada pengusaha, a.l. melalui forum temu bisnis, baik di Lampung sendiri maupun di forum-forum lainnya. Dari sisi produk, Ir. Firdausil Akhyar Ben, M.S., peneliti BPTP, menyatakan bahwa petani setempat sudah mampu melalukan fermentasi kakao dengan standar SNI 01-2323-2002, hanya saja untuk memprodusi massal perlu ada kesepakatan (MoU) jual beli.

Dalam diskusi terungkap keberatan Ketua Gapoktan Mutiara Prima tentang selisih harga jual kakao fermentasi dengan non-fermentasi yang relatif tidak besar. Selisih harga yang kecil itu tidak dapat menutup ongkos produksi kakao fermentasi mengingat waktu yang dibutuhkan, tenaga dan biaya proses tambahan fermentasi tidaklah sedikit.

Ketua DPD Askindo mengungkapkan kesiapannya untuk membina para petani agar produknya dapat memenuhi standar yang ditetapkan. Pola pembinaannya dapat mengikuti pola PIR. Pengusaha tidak membeli kakao dari petani karena dinilai masih dibawah standar akibat SNI tidak diterapkan secara benar. Selama ini untuk memenuhi kebutuhannya, para pengusaha mengimpor kakao dari luar negeri, khususnya dari Pantai Gading dan Ghana. Sedangkan apabila diekspor, produksi kakao dalam negeri diragukan kontinyuitasnya maupun standar mutu yang dihasilkan.

Temu bisnis ini merupakan rangkaian kegiatan Prima Tani di Lampung yang sudah dimulai sejak tahun 2005. BPTP Lampung pun membentuk Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Mutiara Prima untuk memperkuat posisi tawar dan memudahkan koordinasi dalam pemasaran produk kakao.

 
Respon positif

Terkait program Prima Tani, Camat Labuhan Ratu memberikan respon positif terhadap kegiatan ini yang ditunjukkan dengan membantu lahan untuk Klinik Agribisnis dan bangunan gudang kakao dari dana Program Pengembangan Kecamatan (PPK). Disamping itu, selalu mendorong petani dan perangkat desanya untuk mensukseskan program Prima Tani. Seperti diungkapkan camatnya, Kecamatan Labuhan Ratu siap menerima pengusaha yang akan berinvestasi mengembangkan kakao dengan bekerjasama dengan Gapoktan di daerah ini mengingat sudah tersedianya infrastruktur transportasi yang cukup lancar.

Dalam kesempatan yang sama, anggota Tim Teknis Pusat Prima Tani, Prof. Dr. Zainal Machmud,  memberikan apresiasinya yang tinggi terhadap BPTP Lampung karena telah mampu menyelenggarakan forum temu bisnis sebagai sarana komunikasi antara pengusaha dan petani kakao, mengingat program Prima Tani di Lampung baru berjalan kurang dari dua tahun. Ini menandakan implementasi Prima Tani di Lampung telah memperlihatkan hasilnya. Ditegaskan pula, Badan Litbang Pertanian sebagai koordinator Program Prima Tani hanya menginisiasi saja, sedangkan utuk pengembangan lebih lanjut dibutuhkan peran yang besar dari pemerintah daerah setempat.

 

Ekspor kakao Sulsel turun 71,72%

Posted in cacao on April 24, 2008 by k4107082

MAKASSAR: Kinerja kakao Sulsel makin terpuruk setelah nilai ekspor komoditas perkebunan itu merosot hingga 71,72% menjadi US$4,34% pada Januari 2008 dibanding bulan sama tahun sebelumnya.Badan Pusat Statistik (BPS) Sulsel mencatat nilai ekspor kakao pada Januari 2007 sebesar US$15,35 juta. Bila dibandingkan pencapaian pada Desember silam, penurunan ekspor bahkan mencapai 87,07% dari US$33,58 juta. Tren pelemahan ini telah terendus selama periode 2007 ketika ekspor kakao tercatat turun tipis menjadi US$326,18 juta dari US$332,56 juta setahun sebelumnya.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Sulsel Bambang Suprijanto mengatakan kakao merupakan komoditas andalan ekspor provinsi itu dengan menempati urutan kedua tertinggi setelah nikel. Pada tahun lalu, kakao menyumbangkan 12,02% terhadap total ekspor. Urutan pertama nikel berkontribusi 76,36% sedangkan urutan ketiga ikan dan udang hanya 3,81%.

“Tetapi persentase peran kakao terhadap total ekspor Januari 2008 turun ke posisi kelima dengan 1,94%. Posisinya digantikan oleh lemak dan minyak hewan/nabati, sementara ikan dan udang bertahan di urutan tiga,” kata Bambang, belum lama ini.

Penurunan nilai ekspor ini diduga terutama disebabkan oleh pelemahan produksi. Hal itu sangat disayangkan karena terjadi di tengah kecenderungan melesatnya harga kakao di pasar dunia. Bambang menyebut secara keseluruhan ekspor daerah itu naik 18,40% dibanding Desember menjadi US$223,59 juta.

Sebelumnya, Ketua Asosiasi Kakao Indonesia (Askindo) Sulsel Yusa Ali mengungkapkan kekhawatirannya bahwa produksi kakao pada 2008 bakal turun sedikitnya 10% karena semakin banyak tanaman tidak produktif. Kondisi itu diperburuk oleh masalah klasik seperti serangan hama dan konversi lahan kakao menjadi ladang jagung seperti di sentra produksi Enrekang.

Menurut dia, produksi kakao Sulsel tahun ini diperkirakan hanya mencapai 195.000 ton. Tahun lalu produksi juga turun sekitar 10% dibanding 2006.

“Sebenarnya berapa produksi sepanjang tahun ini masih sulit diprediksi, namun kalau melihat kondisi dan kendala yang kita hadapi, saya pikir produksi pasti bakal turun lagi minimal 10%, kecuali ada tindakan drastis untuk menyelesaikan masalah,”

 

Pesona Wisata Yang Luar Biasa Ada Di Berau

Posted in data diri saya on April 5, 2008 by k4107082

Sebagai ibukota kabupaten Berau, Tanjung Redeb hanyalah sebuah kota kecil. Tidak perlu waktu lama untuk berkeliling melewati semua jalan yang ada di kota itu. Belum terlalu padat penduduknya. Demikian halnya lalulintas kota Tanjung Redeb relatif masih belum padat. Kalau sesekali tampak kesemrawutan lalulintas kotanya, itu seringkali karena ulah pengendara sepeda motor yang (sepertinya sama di hampir setiap kota) “belum pernah” belajar sopan santun berlalu lintas.

Saya ingin memberi penekanan pada kata “belum pernah”. Coba perhatikan proses seseorang sejak memiliki sepeda motor hingga ber-SIM di jalan raya. Sama sekali tidak ada tahap mempelajari tata tertib atau lebih lazim disebut sopan santun berlalulintas. Meski sebenarnya bukan monopoli pengendara sepeda motor saja, juga sopir-sopir mobil.

Tanpa mempelajari aturan berlalulintas pun siapa saja dapat memiliki SIM. Akibatnya? Rambu-rambu lalulintas ya hanya sekedar hiasan jalan. Piranti lampu sign ya hanya sekedar asesori sepeda motor. Sampai-sampai di Banjarmasin pak polisi perlu memasang spanduk di mana-mana yang mengingatkan agar menghidupkan lampu sign ketika belok. Atau di Jogja banyak sepeda motor tanpa lampu berkeliaran di malam hari. Ngebut lagi! Uedan tenan! (pernah saya singgung, wong sepeda motor tidak ada lampunya kok dibeli……)

***

Meski hanya sebuah kota kecil, kini Tanjung Redeb dan Berau sedang menggeliat. Pasalnya kota ini dipilih menjadi salah satu lokasi untuk ajang Pekan Olahraga Nasional ke-17 pada bulan Juli tahun 2008 ini, dimana provinsi Kaltim menjadi tuan rumah. Hampir di setiap sudut kota, terlebih jalan-jalan protokol, sedang dibenahi. Kondisi jalannya, trotoarnya, saluran airnya, dan berbagai fasilitas kota sedang direnovasi dan ditata agar tampil lebih baik.

Tanjung Redeb khususnya dan kabupaten Berau pada umumnya, memang sudah sepantasnya melakukan itu. Kabupaten ini memiliki pesona wisata yang luar biasa yang belum digarap maksimal oleh penguasa setempat. Keindahan alamnya, baik di darat maupun di laut dengan wisata baharinya. Wisata sejarah dan budaya dari sisa peninggalan kerajaan Berau serta museumnya. Juga masih bisa dijumpai jejak peninggalan jaman Belanda. Semuanya menawarkan pesona wisata yang sangat menarik untuk dikunjungi.

Tanjung Redeb yang letaknya berada di dekat muara sungai Berau, dari sana mudah untuk menjangkau kawasan pulau Derawan dan Sangalaki yang terkenal memiliki keindahan alam laut dan bawahnya. Sebagian wisatawan menyebutnya sebagai sorga bawah laut terindah di dunia. Tentu ini adalah ekspresi untuk melukiskan betapa keindahan yang ditawarkan oleh pesona alam di daerah ini. Belum lagi kekayaan biota laut dan keindahan ekosistem kelautan yang banyak dikagumi oleh para wisatawan.

Kawasan kepulauan Derawan ini sesungguhnya merupakan kumpulan dari ratusan buah pulau yang berada di delta sungai Berau. Sebagian sudah bernama, sebagian lainnya belum punya nama. Mudah-mudahan saja pemerintah Berau mampu mengurusnya agar tidak dicaplok oleh negeri jiran seperti nasib tetangganya, pulau Sipadan dan Ligitan, hanya karena pemerintah Indonesia dianggap tidak mampu mengurusnya.

Hutan yang ada di wilayah kabupaten Berau termasuk yang terbesar yang masih utuh di Indonesia. Salah satu tipe hutan yang istimewa di Berau adalah hutan kapur dataran rendah. Tipe hutan ini hanya ada di Kalimantan Timur, sementara yang ada di tempat lain kondisinya sudah tidak sebaik yang ada di Berau. Keistimewaan lain kabupaten Berau adalah masih dijumpainya populasi orangutan. Bisa jadi kawasan ini kelak akan menjadi benteng pelestarian orangutan alami, agar tidak semakin punah populasinya.

Menilik sejarah pemerintahan di jaman baheula, kerajaan Berau berdiri pada abad 14 dengan rajanya yang memerintah pertama kali adalah Baddit Dipattung yang bergelar Aji Raden Surya Nata Kesuma dan permaisurinya bernama Baddit Kurindan yang bergelar Aji Permaisuri. Dalam perjalanan pemerintahan kerajaan Berau kemudian, hingga pada keturunan ke-13, Kesultanan Berau terpisah menjadi dua yaitu Kesultanan Gunung Tabur dan Kesultanan Sambaliung. Kini masih dapat disaksikan peninggalan bersejarah kesultanan keraton dan museum Sambaliung dengan rajanya yang terakhir Sultan M. Aminuddin (1902-1959).

Kalau saja memiliki waktu agak longgar berada di Tanjung Redeb, rasanya sayang kalau tidak menyempatkan mengunjungi berbagai obyek wisata di sana. Ada pesona wisata yang belum banyak terjamah oleh wisatawan, baik domestik maupun mancanegara. Tinggal pintar-pintar saja bagaimana pemerintah Berau menjualnya.

Di Tanjung Redeb tidak sulit menemukan tempat untuk menginap. Kota ini juga memiliki banyak pilihan penginapan, mulai dari hotel kelas bintang, melati hingga kelas backpakker yang murah-meriah.

Untuk mencapai Tanjung Redeb pun tidak terlalu sulit. Meskipun belum ada pesawat besar yang menyambangi, setidaknya pesawat kecil masih midar-mider baik langsung dari Balikpapan maupun melalui Tarakan lalu disambung dengan kapal ferri. Mau mencoba lewat darat menyusuri jalan poros Balikpapan – Tanjung Redeb juga bisa jadi petualangan yang mengasyikkan. Mudah-mudahan kelak tidak perlu lagi 20 jam lewat darat, untuk menikmati pesona wisata yang luar biasa yang ditawarkan kabupaten Berau.

 

 

Daerah Kabupaten Berau

Posted in data diri saya on April 5, 2008 by k4107082

 

 

 

 

 

 

                                   Semua tipe hutan utama yang terdapat di pulau Kalimantan, terdapat di Kabupaten Berau. Hutan bakau, hutan rawan dan rawa gambut dijumpai di sepanjang pesisir dan muara sungai Berau. Hutan dipterokarpa dataran rendah tersebar dan bercampur dengan hutan kerangas dan hutan kapur dataran rendah. Di atas ketinggian 1000 m dpl hutan dipterokarpa digantikan oleh hutan pegunungan rendah dan pada puncak tertinggi gunung Mantan (2457 m dpl) terdapat cloude forest, hutan yang selalu diliputi awan.

                                   Hutan Kapur Dataran Rendah di Berau merupakan yang kondisinya masih sangat baik dan yang terbesar di Indonesia Timur. Menurut IUCN, Hutan Kapur di Kabupaten Berau merupakan satu dari 10 kawasan hutan kapur paling terancam di dunia, dengan mempertimbangkan kegiatan-kegiatan ekploitasi di sekelilingnya yang berpotensi merusak. Disamping dikenal sebagai pusat keragaman hayati dan burung endemik, hutan kapur merupakan daerah tangkapan air yang penting bagi Kabupaten Berau. Di gua-gua dalam formasi kapur terdapat lukisan kuno yang diperkirakan berumur antara 8.000 sampai 20.000 tahun dan di beberapa gua juga ditemukan patung Hindu yang berasal dari abad ke 5. Berdasarkan keunikan ekologi dan budaya tersebut, kawasan hutan kapur akan  

                                    Sungai Kelay adalah sungai yang terpanjang di Kabupaten Berau. Mengalir dari pegunung sekitar Gunung Mantam, sepanjang 254 kilometer sampai pada pertemuan dengan Sungai Segah membentuk Sungai Berau di Tanjung Redeb. Sungai Segah panjangnya sekitar 152 kilometer, hulu sungai berada di sekitar Gunung Kundas. Di DAS dan hulu-hulu Sungai Kelay terdapat hutan primer dataran rendah yang luas, dan yang tersisa di Kalimantan. Hutan ini merupakan ekosistem daratan yang paling beragam di dunia. Di DAS Kelay terdapat 11 jenis primata termasuk orangutan dan bekantan yang terancam punah. Sementara habitat alami orangutan yang lain di Kalimantan Timur terus mengalami degradasi. Tampaknya Kabupaten Berau berpotensi bagi pelestarian habitat orangutan, dengan ditemukannya populasi alami yang cukup tinggi dan kondisi habitat yang masih baik. Dengan melestarikan habitat orangutan berarti juga melestarikan jenis-jenis satwa lainnya, juga melestarikan hutan dataran rendah yang merupakan bagian DAS Kelay, dan pada akhirnya melestarikan sumber daya alam dan daya dukung bagi masyarakat setempat maupun masyarakat yang lebih luas. Dalam konteks bentang alam, pelestarian hutan ini juga berdampak positip bagi upaya pelestarian daerah pesisir dan terumbu karang di sekitar kepulauan

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.